Gue ingat betul, tahun lalu pas CES 2025, orang-orang masih ributin soal parameter model bahasa. Berapa triliun? Bisa nulis puisi gaya Chairil Anwar nggak? Bisa ngoding nggak?
Sekarang? Januari 2026 baru lewat beberapa minggu, dan gue masih nggak bisa berhenti mikirin apa yang gue lihat di Las Vegas awal bulan ini. Karena CES tahun ini beda. Bener-bener beda.
Bayangin lo jalan di tengah ribuan booth. Biasanya lo liat layar-layar gede, orang demo aplikasi, presenter ngomong ke mikrofon. Tapi kali ini… ada robot yang mukul robot lain di atas ring tinju . Ada mesin yang bisa lipat baju meskipun super lambat . Ada permen lolipop yang bisa mainin lagu di kepala lo lewat gigi . Dan yang paling gila: ada kursi roda pintar yang bisa mikir sendiri.
CES 2026 bukan sekadar pameran teknologi biasa. Ini adalah momen ketika AI berhenti jadi suara di speaker pintar dan mulai jadi… sesuatu yang bisa lo lihat, lo sentuh, bahkan lo ajak tinggal serumah.
“Physical AI”: Istilah Baru yang Bakal Lo Denger Terus di 2026
Jadi ada satu kata yang diulang-ulang sama semua orang di CES tahun ini: Physical AI.
Jensen Huang, bos NVIDIA, sampai menyebutnya 17 kali dalam satu pidato pembukaan . Katanya, ini adalah gelombang berikutnya setelah AI generatif. Kalau AI generatif bisa bikin gambar dan nulis teks, Physical AI adalah ketika AI bisa memahami dunia nyata, bergerak di dalamnya, dan mengubahnya secara fisik .
Gue coba jelasin dengan cara sederhana.
Dulu, lo minta ChatGPT bikin resep masak. Dia kasih resep. Lo baca. Lo masak sendiri. Itu AI masih di layar.
Sekarang, lo minta robot dapur bikin masakan. Dia ambil bahan dari kulkas. Dia potong pakai pisau ultrasonik yang getarnya 40kHz tapi nggak kerasa di jari . Dia masak. Dia sajikan. Lo tinggal makan.
Itu bedanya. Dari asisten digital, jadi tetangga digital.
3 Wujud Physical AI yang Bikin Gue Tercengang
Gue udah milihin tiga contoh paling gila dari yang gue lihat langsung atau baca dari liputan. Biar lo bisa bayangin sejauh mana ini semua udah berkembang.
1. Robot yang Bisa Tinju, Backflip, dan Kerja di Pabrik
Di CES tahun ini, lomba robot humanoid nggak main-main. Ada tiga negara yang saling sikut: China, Amerika, dan Korea Selatan .
Dari China, ada Unitree dengan robot G1-nya. Mereka bikin ring tinju beneran di booth. Robot G1 versi boxing pake algoritma keseimbangan dinamis yang dikembangin sendiri. Pas dipukul, dia bisa langsung stabil lagi. Pengunjung sampe manggil dia “Bruce Lee-nya robot” . Ada juga EngineAI T800 yang bisa tendangan karate dan backflip di tempat .
Tapi yang paling gokil menurut gue adalah Agibot. Perusahaan ini udah ngirim 5.000 unit robot—bukan prototipe, tapi beneran produksi massal . Mereka pamerin robot A2, X2, G2, plus quadruped D1. Bayangin, 5.000 robot udah jalan di dunia nyata, bukan coba-coba di lab .
Dari Amerika, Boston Dynamics akhirnya ngeluarin versi produksi dari robot Atlas yang selama ini coba kita lihat di YouTube. Yang baru ini full electric, bisa kerja di suhu -20°C sampai 40°C, angkat beban sampai 50 kg, baterai tahan 4 jam, dan bisa ganti baterai sendiri dalam 3 menit . Rencananya, tahun 2028 mereka bakal produksi 30.000 robot per tahun .
Atlas ini udah dipesen sama pabrik Hyundai dan Google DeepMind buat mulai kerja tahun ini juga .
Dari Korea Selatan, ada “K-Humanoid” alliance bentukan Samsung sama Rainbow Robotics. Robot mereka namanya HMND-01 Alpha, tingginya 2,2 meter, roda bukan kaki, payload 15 kg. Bentuknya kayak… robot raksasa dari film fiksi ilmiah .
2. Robot yang Bisa Jadi Teman (Bahkan buat yang Lupa)
Tapi nggak semua robot dibuat buat kerja berat di pabrik. Ada juga yang dibuat khusus buat… nemenin lo.
Gue paling keinget sama Jennie, si robot anjing dari perusahaan China . Dia didesain khusus buat penderita Alzheimer. Bulunya halus, gerakannya lambat, dan dia bisa merespon panggilan di lingkungan yang sepi. Harganya? 1.500 dolar AS. Bukan murah, tapi buat keluarga yang punya lansia dengan demensia, mungkin ini jadi solusi.
Terus ada Mirumi dari Jepang . Ini robot kecil berbulu yang bisa digantung di tas. Dia punya algoritma khusus yang bikin reaksinya acak. Kadang dia malu-malu, kadang penasaran, kadang excited. Lo sentuh, dia menoleh. Lo ajak main, dia excited. Rasanya kayak punya hamster kecil yang nggak perlu dikasih makan.
Dan yang paling anyep menurut gue: Cocomo dari Ludens AI . Robot ini suhu badannya bisa naik sampai 39°C pas lo peluk. Iya, bener. Dia pemanas. Dia juga nggak ngomong pake bahasa manusia, tapi pake suara “non-semantic” kayak gumaman atau dengkuran. Ini sengaja dibuat supaya kita nggak berharap dia bisa ngobrol kayak manusia, tapi lebih kayak… kucing atau anjing. Yang penting ada, yang penting hangat.
LG juga punya CLOiD, robot dengan muka layar yang bisa ekspresi, bisa ngelipet baju (walopun lambat), ngeluarin piring dari oven, dan kontrol TV .
3. Benda Mati yang Jadi Hidup: Dari Cincin, Kacamata, sampai… Lolipop?
Nah ini yang paling bikin gue nganga. Physical AI nggak cuma soal robot. Tapi soal semua benda di sekitar lo bisa punya “kecerdasan”.
Cincin Vocci misalnya. Ini cincin titanium setebal 0,9 mm, tebelnya kira-kira dua kali lipat kertas HVS. Lo pencet tombolnya, dia rekam suara selama 8 jam. Abis itu, AI di HP lo bakal ngetranskrip, ngebedain suara siapa aja yang ngomong, nge-highlight kalimat penting, bahkan bikin to-do list otomatis. Rapat 2 jam, 10 detik kemudian lo dapet ringkasan . Harganya $299.
Kacamata Rokid bobotnya cuma 38,5 gram—lebih enteng dari sebungkus mie instan. Ini adalah kacamata AI paling enteng di pasaran, dan bisa pake model ChatGPT atau DeepSeek . Di booth mereka, mereka bikin kafe palsu. Lo pake kacamata, lo lihat menu bahasa Inggris, di mata lo langsung muncul terjemahan. Lo bilang “saya mau kopi”, langsung diproses .
Lego juga ikutan. Mereka bikin “smart brick”—bata lego yang dalemnya ada chip AI ukuran sebesar benjolan di permukaan bata. Begitu lo deketin Darth Vader ke X-wing, tiba-tiba keluar suara mesin pesawat atau suara lightsaber. Ini bukan suara rekaman, tapi sintesis real-time. Batanya juga bisa komunikasi satu sama lain lewat Bluetooth dan tahu posisi mereka di ruang 3D .
Tapi nominasi produk paling absurd tahun ini jatuh ke… Lollipop Star . Ini lolipop yang pake teknologi bone conduction. Lo hisap, lagu merambat dari gigi ke tulang rahang ke telinga dalam. Hanya lo yang denger. Orang di samping lo diem aja. Kolaborasi sama Ice Spice (peach), Akon (blueberry), sama Armani White (lime). Harganya cuma $8,99. Lo bisa denger musik sambil ngeces. Hidup udah mencapai puncaknya.
Data yang Ngebuktiin Ini Bukan Iseng
Gue tahu lo mungkin mikir, “Ah, paling cuma konsep. Nggak bakal kepake.”
Tapi datanya bilang lain.
Patén robot humanoid: Dalam 5 tahun terakhir, perusahaan China ngajuin 7.705 patén terkait robot humanoid. Amerika cuma 1.561 . Ini bukan main-main. Ini investasi jangka panjang.
Produksi massal: Agibot udah kirim 5.000 unit . Fourier Intelligence udah melayani 2.000 institusi medis di 40 negara . Unitree punya ribuan unit di lapangan. China sekarang menguasai 40% dari seluruh pengumuman robotik di CES 2026, sementara Amerika 25% .
Nilai pasar: Hyundai—pemilik Boston Dynamics—nggelontorin $26 miliar buat operasi di AS, termasuk fasilitas robotik yang bisa produksi 30.000 unit per tahun . Nvidia juga all-in dengan platform Cosmos mereka yang khusus buat latih robot di dunia simulasi sebelum diterjunkan ke dunia nyata .
Ini bukan sekadar pameran tahunan. Ini perang industri.
Tapi Jangan Keburu GeEr: Ini Masih Jauh dari Sempurna
Gue harus jujur. Setelah semua euforia ini, ada beberapa hal yang bikin gue mikir ulang.
Pertama, harganya. Robot Atlas produksi massal mungkin bisa lebih murah, tapi tetaplah mahal. Cincin Vocci $299. Kacamata Rokid belum diumumkan harganya tapi pasti di atas $500. Robot Jennie $1.500. Ini semua masih barang mewah.
Kedua, kecepatannya. CLOiD-nya LG bisa lipet baju. Tapi coba lo liat videonya di Bloomberg—satu handuk kecil aja butuh waktu 5 menit. Lo mau nungguin itu? Atau lo lebih milih lipet sendiri 30 detik?
Ketiga, privasi. Cincin yang merekam semua obrolan. Kacamata yang lihat semua yang lo lihat. Robot di rumah yang tahu kapan lo tidur, kapan lo bangun, bahkan kapan lo lagi sedih. Data ini dikirim ke mana? Dipake buat apa? Perusahaan kayak Rokid bilang mereka pake enkripsi, tapi kita pernah lihat sendiri bagaimana data bisa bocor.
Keempat, ketergantungan. Kalau lo udah terbiasa punya teman robot yang selalu setuju sama lo (kayak AI Companion di artikel gue sebelumnya), apa lo masih bisa punya hubungan manusiawi yang sehat? Atau lo bakal lebih milih ngobrol sama mesin yang nggak pernah nyalahin lo?
Panduan Buat Lo yang Mau Nyebur (At Least Sekadar Tahu)
Nah buat lo yang termasuk early adopters atau sekadar tech enthusiast, gue kasih beberapa tips.
1. Mulai dari yang Kecil
Nggak perlu langsung beli robot humanoid seharga rumah. Mulai dari yang ringan: beli smart ring kayak Pebble Index 01 atau Vocci. Atau beli kacamata AR kayak Rokid. Rasain dulu gimana rasanya punya AI yang nempel di tubuh lo.
2. Baca Kebijakan Privasi (Iya, lo harus)
Ini membosankan. Tapi penting. Cek data lo dikirim ke mana. Apakah bisa dihapus? Apakah perusahaan punya rekam jejak keamanan yang baik? Jangan sampai lo jadi produknya.
3. Pahami Batasan
Robot bukan manusia. Mereka nggak punya empati beneran. Mereka cuma simulasi. Jadi jangan harap mereka bisa gantikan teman, keluarga, atau pasangan. Mereka alat, bukan pengganti.
4. Coba Sebelum Beli
CES 2026 emang udah lewat, tapi banyak produk yang bakal masuk ke Indonesia lewat distributor kayai KlikFilm atau toko online. Coba cari opportunity buat demo langsung sebelum keluarin duit.
5. Ikuti Perkembangannya
Tahun 2026 ini bakal jadi tahun di mana Physical AI ngebut banget. Boston Dynamics mulai kirim Atlas ke pabrik. Tesla janji mau produksi massal Optimus V3. Unitree, Agibot, dan Fourier bakal terus update. Lo bisa follow akun-akun tech atau subreddit robotik biar nggak ketinggalan.
Jadi, Lo Pihak Mana?
Gue pulang dari Las Vegas dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi, gue excited banget. Mimpi-mimpi gue kecil—tentang robot yang bisa bantu kerja, tentang dunia yang lebih efisien—mulai jadi nyata. Gue bisa punya asisten yang nggak cuma ngatur jadwal tapi juga ngelipet baju (walopon lambat). Gue bisa pake cincin yang ngerekam semua ide gila gue di tengah malam. Gue bisa ngobrol sama hologram Faker di meja kerja .
Di sisi lain, gue takut. Bukan takut robotnya ngambil alih dunia—itu masih jauh. Tapi takut kita lupa jadi manusia. Takut kita lebih milih ngobrol sama mesin yang hangat (literally, 39°C) daripada ngobrol sama tetangga yang dingin. Takut data kita dijadiin komoditas tanpa kita sadar.
Tapi satu hal yang pasti: gerbangnya udah terbuka. AI nggak akan kembali ke dalam layar. Dia udah punya tubuh. Dia udah bisa bergerak. Dia udah mulai jadi bagian dari lingkungan kita.
Pertanyaannya sekarang: lo siap nggak punya tetangga digital?
Gue masih mikirin robot Jennie yang dibuat buat pasien Alzheimer. Di satu sisi, ini solusi buat keluarga yang kewalahan. Di sisi lain, apa nggak sedih kalau lo lupa sama anak cucu lo, tapi lo inget sama robot anjing? Nggak ada jawaban mudah. Tapi gue pengen denger pendapat lo. Kalau lo punya orang tua dengan demensia, lo bakal beliin mereka robot companion? Atau lo lebih milih cara lama? Tulis di kolom komentar, gue penasaran.
